Seorang samurai, jika ingin bunuh diri (harakiri) dengan melakukkan seppuku, maka ia harus mengikuti beberapa ritual dengan metode khusus. Seorang samurai, pertama kali ia harus mandi terlebih dahulu, kemudian menggunakan jubah putih, makan makanan favorit, dan jika ia sudah selesai, alat-alat yang akan digunakan diletakkan di atas piring. Kemudian ia harus mengenakan pakaian upacara, dengan pedang yang diletakkan di depannya dan terkadang diletakkan pada kain khusus. Seorang prajurit mempersiapkan kematiannya dengan menulis sebuah Puisi Kematian (Death Poem). Puisi tersebut ada hubungannya dengan pelaksanaan keagamaan.
Puisi ini harus indah, alami, dan mengikuti ajaran Budha dan Shinto (ada kemungkinan juga kristiani).Dalam puisi, terkadang mengungkapkan kemampuan seseorang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Shibata Katsuie (saudara Nobunaga) ia melakukan seppuku karena kalah perang. Berikut puisi yang telah ia buat :
Dalam ritual ini, pelaku ditemani oleh seorang pelayan yang sudah ia pilih sendiri, (kaishakunin) yang berdiri disebelahnya. Ia bertugas membuka kimononya dan mengambilkan tanta (pisau) yang akan ia gunakan untuk merobek perutnya dari kiri ke kanan. Dan kemudian, kaishakun akan melakukan daki-kubi, sebuah potongan ketika prajurit tersubut telah selesai (hanya meninggalkan bekas garis tipis setelah kepala dan badannya terpisah).
Ritual yang rumit ini berkembang setelah seppuku banyak dilakukan di medan perang. Waktu itu, hal ini dijadikan sebagai salah satu hukuman resmi bagi penguasa tinggi. Orang kedua biasanya, tapi tidak selalu adalah seorang teman. Jika ia adalah seorang prajurit yang kalah di medan perang dengan terhormat, lawannya yang hendak menghormati akan menjadi sukarelawan untuk menjadi orang kedua.
Selain itu, tindakan bunuh diri yang dilakukan sebagai wujud kesetiaan seorang samurai kepada tuannya yang mati disebut junshi. Ritual ini dilaksanakan sebagai wujud kesetiaan seseorang terhadap tuannya, dan juga sebagai salah satu ekspresi yang menunjukkan ketidak setujuannya dengan tuannya. Alasan yang paling sering digunakan atas tindakan ini adalah harakiri yang dilakukan dalam peperangan oleh para samurai untuk menghindari supaya mereka tidak jatuh ke tangan musuh, dan untuk mengurangi rasa malu karena kalah atau karena telah melakukan sebuah kesalahan. Akan tetapi, harakiri ini juga bisa dilakukan oleh samurai jika tuannya menghendakinya untuk melakukan harakiri. Harakiri ini tidak hanya dilakukan oleh kaum pria saja tetapi juga oleh para samurai wanita. Meskipun sering dilupakan, perempuan juga sampai pada tingkat samurai. Sudah menjadi hal yang wajar, ketika suami adalah seorang samurai, maka seluruh keluarga juga harus mengikuti nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang samurai.
Ritual bagi kaum wanita dilakukan dengan cara yang berbeda dan harus meminta ijin terlebih dahulu.Ritual bunuh diri untuk para wanita disebut jigai. Dalam ritual ini, mereka tidak menusukkan pisau ke perut tapi memotong tenggorokannya. Akan tetapi, ada yang mengatakan juga bahwa untuk para wanita, seppuku ini dilakukan dengan menusuk jantung dengan pisau atau jepit rambut yang panjang dan tajam seperti yang dilakukan oleh Koju Maru.


19.19
Arif

1 comments:
hiiiiiiyyyy kok ada y orang yang nekat kayak gini, wah wah...
jangan ditiru y gan...
:p
Posting Komentar